29
Jan
08

Semut dan Lalat


Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas
sebuah tong sampah didepan sebuah rumah.
Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak
menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor
lalat bergegas terbang memasuki rumah itu.
Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang
penuh dengan makanan lezat.
“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya
menikmati makanan segar” katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan
terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata
pintu kaca itu telah terutup rapat.
Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi
kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya
seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan
mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca,
sesekali melompat dan menerjang kaca itu,
dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar
dari pintu kaca.
Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke
bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian
terus dan terus berulang-ulang.
Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan
kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai
lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut
merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya
untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang
tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan
beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati.
Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut
bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada
rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini
Pak?, mengapa dia sekarat?”.
“Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati
sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah
berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras
berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika
tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan
kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi
menu makan malam kita”
Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih
penasaran dan bertanya lagi “Aku masih tidak
mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras?
kenapa tidak berhasil?”.

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat,
semut tua itu menjawab “Lalat itu adalah seorang
yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang
kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara
yang sama”.
Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti
sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali
ini dengan mimik & nada lebih serius :

“Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan
cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda,
maka nasib kamu akan seperti lalat ini”.


0 Responses to “Semut dan Lalat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: